www.ETCshow.com

v i s u a l d e s i g n

Aruk Gugat : Salahkah menjadi polos atau jujur?

Aruk Gugat - teater satu lampung"Salahkah menjadi polos atau jujur?” Hal itu menjadi semacam gugatan yang dilontarkan tokoh Aruk dalam lakon Aruk Gugat karya Iswadi Pratama pada pentas teater yang digelar Teater Satu Lampung, Jumat (12-3).

Dalam lakon Aruk Gugat tersebut tergambar dengan gamblang, menjadi "orang polos" pada zaman sekarang ini yang cenderung tidak mendapatkan tempat, terlebih dalam kehidupan publik.

Aruk seperti menjadi simbol dari dilema dalam kehidupan manusia zaman sekarang yang harus menghadapi kekerasan dalam sistem sosial, politik, ideologi, bahkan ekonomi. Sementara hati nurani tak bisa dikesampingkan begitu saja.

Sore itu, Aruk Gugat menampilkan sebuah sajian teater yang segar, bernas sekaligus reflektif. Naskah Aruk Gugat--diangkat dari cerita rakyat Lampung dan baru pertama kali dimainkan secara utuh di Lampung tersebut--menceritakan tentang seorang anak bernama Aruk, dimainkan dengan sangat baik oleh Sugianto.

Aruk adalah anak yang agak pandir atau polos tetapi baik hati, di mana ia harus menanggung ambisi ayahnya, untuk meneruskan kejayaan silsilah bangsawan yang mengalir di darahnya.

Cerita kemudian berkembang dengan berbagai kesialan yang menimpa Aruk pada setiap aspek kehidupannya, hanya karena ia terlalu lugu dan jujur dalam menjaPramoedya_Ananta_Toerlani kehidupan tersebut.

Ketika menjadi polisi, Aruk menolak sesuatu hal yang bertentangan dengan nuraninya. Dengan jujur dan tegas, ia menolak untuk memegang pistol. Akhir cerita, Aruk dipecat.

Pun begitu dengan cerita kehidupan selanjutnya yang bergulir ketika ia sudah menikah. Aruk menikah dengan Betik Hati (Desi Susan) dan menjadi seorang nelayan.

Namun, selama menjadi nelayan, tak pernah sekalipun Aruk mendapat ikan dikarenakan tak mampu bersaing dengan nelayan-nelayan lain. Aruk acap pulang hanya dengan membawa rumput laut. Hal itu menjadi pemicu konflik yang berkepanjangan dengan sang istri.

Kesialan seolah tak pernah lepas dari Aruk. Bahkan ketika akhirnya Aruk memutuskan menjadi seorang cerpenis. Karya-karyanya yang terlalu lugu, acap menjadi bahan tertawaan orang lain.

Terakhir, Aruk terpilih menjadi pamong desa. Dia memimpin desanya dengan menggelar rapat setiap hari. Dua tahun memimpin, rakyatnya mulai menggugat. Akhirnya dia frustrasi dan membakar balai desa. Aruk pun kemudian harus hidup di penjara.

ditulis oleh : Lampung post pada Jum'at, 12 Maret 2010.

Sebelumnya sorry kalo artikel ini hasil copas. Karena tadi nggak sengaja baca artikel ini dan jadi tertarik untuk kasih review.

Pernah nonton pementasan teater satu Lampung beberapa waktu lalu. emang keren sih, secara saya ini kan bukan orang teater, jadi kurang tau mana teater yang bagus dan mana teater yang kurang' bagus. Yang penting enjoy. Dan wah banget rasanya nonton teater. Apalagi akting, penyutradaraan dan setting panggung beserta lighting-nya yang digarap dengan serius. Kalau nggak salah waktu itu mementaskan lakon "Nyai Ontosoroh". Bagian dari Tetralogi yang ditulis alm. Pramoedya Ananta Toer yaitu Tetralogi Buru. Yang mana tetralogi tersebut terdiri dari Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. * jadi buka wiki akhirnya .. lumayan nambah pengetahuan...

Tapi... dibalik pementasan yang cemerlang dan mengundang decak kagum penonton, bahkan teater ini melalui salah satu lakon Monolog Perempuan di Titik Nol dipilih sebagai pertunjukan terbaik Indonesia Versi majalah Tempo tahun 2008, sepertinya lakon yang dipentaskan hanya semata mata penggalan dari kisah kehidupan manusia. Dengan sangat jujur, bahkan diakhiri dengan horrible ending. Akhirnya kembali seperti judul tulisan ini "Salahkah menjadi polos atau jujur?". Dan pertanyaannya adalah mengapa membuat lakon teater-pun harus polos dan jujur? Apakah teater adalah institusi kesenian yang harus menampilkan sebuah kepolosan dan kejujuran? Mengapa penulis cerita atau sutradara tidak mengintervensi alur cerita dalam lakonnya sehingga berakhir happy ending? Atau setidaknya menawarkan ide brilian keluar dari permasalahan daripada terjebak dalam lakon itu sendiri?

Lalu adakah manfaat pementasan teater bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas di luar komunitas teater?

 


Read 0 Comments... >>

Share This Page through your Social Bookmark

Facebook MySpace Twitter Digg Delicious Stumbleupon Google Bookmarks RSS Feed 

Baca Juga Yang ini :

article thumbnailApa Yang Dapat Anda Lakukan Dengan Software Video Editing?
10/10/2010 / Desain

Dengan Video Editing Software, Anda dapat membuat dan berb... 


article thumbnailHati hati spanning listrik
03/07/2010 / Opini

Hari ini (2 Juli 2010), Kompas memberitakan : Pemberantasa... 


article thumbnailTips Memilih Software Video Editing
10/10/2010 / Desain

Ketika berpikir tentang perangkat lunak VIideo Editing, pert... 


article thumbnailAan Ibrahim: Potensi etnik di Kain Tapis & Sulam Usus
26/02/2010 / Gaya Hidup

Hanya ada beberapa desainer di Indonesia yang memainkan dua ... 


article thumbnailPerjuangan Topi Sarjana by Rumah Seni Lampung
25/04/2010 / Seni & Budaya

RUMAH Seni Production berhasil mengerjakan sebuah film pan... 


article thumbnailHosting Gratis di IBI Darmajaya
16/02/2010 / Review

Kabar gembira nih untuk anda yang berada di Lampung, khususn... 


article thumbnailPerspektif Gembira Sastra Lampung
24/01/2010 / Seni & Budaya

Spektrum menggagas sastra daerah, tentu banyak kendala. Namu... 


article thumbnailMiyabi meningkat di pencarian Yahoo! setelah gempa bumi dan tsunami di Jepang.
21/03/2011 / Internet

Jika dunia menginginkan sebuah kata kunci "gempa bumi" dan... 


article thumbnailWhat's new in Adobe Photoshop CS5 (bagian 3)
11/04/2011 / Desain

(Sambungan dari bagian 2) Tools dan Filter Baru
Content-aw... 


article thumbnailSejarah Facebook, Fakta yang anda tak harus tahu.
18/07/2010 / Gaya Hidup

Saya yakin anda pernah makan ayam goreng. Namun saya tidak y... 


You are here Blogs & News Seni & Budaya